pariwisata kota probolinggo

Sekolah Inklusi Terus Bertambah

  Dibaca : 778 kali
Sekolah Inklusi Terus Bertambah
bersihkan tmp
space ads post kiri

Sejak dirintis pada 2012 silam, jumlah sekolah inklusi di Kota Probolinggo terus bertambah. Hingga akhir 2015 lalu, sebanyak 34 sekolah regular telah membuka pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Sekolah Inklusi

Sekolah Inklusi.(istimewa)

“Sebanyak 299 ABK bisa bersekolah di 34 sekolah yang membukan pendidikan inklusi. Belum lagi ditambah siswa ABK yang bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa),” ujar Kabid Pendidikan Non Formal Informal (PNFI) di Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Probolinggo, Heri Wijayani, Kamis (21/1).

Pada 2012 lalu, tiga sekolah negeri di Kota Probolinggo menjadi sekolah inklusi yakni, SDN Jati 5, SMPN 3, dan SMKN 3. Pada 2013, jumlah sekolah inklusi di Kota Probolinggo berkembang menjadi 11 sekolah.

Kepala SDN Jati 5, Endang mengatakan, dirinya tidak mengira sekolahnya bakal menjadi jujukan puluhan ABK. “Sekarang terdapat 46 ABK di kelas I-VI, padahal jumlah GPK (Guru Pendamping Khusus, Red.) hanya 6 orang,” ujarnya.

Endang menambahkan, sebenarnya saat penerimaan peserta didik baru, SDN Jati 5 sudah menyarankan kepada orangtua yang memiliki ABK agar anaknya disekolahkan di dekat rumahnya masing-masing. “Jangan semua disekolahkan ke SDN Jati 5. Bahkan ada siswa AKB dari Tongas, Kabupaten Probolinggo disekolahkan ke sekolah kami,” ujarnya.

Sebenarnya jumlah sekolah yang menampung ABK lebih banyak lagi dari data yang di Dispendik. Soalnya sebagian sekolah tidak menyatakan secara terbuka sebagai sekolah inklusi tetapi menampung sejumlah ABK.

Setelah mendapatkan sambutan positif dari sekolah dan masyarakat, Pemkot Probolinggo menggelar deklarasi Kota Inklusi pad 2014 lalu. Pada saat itu jumlah sekolah inklusi di Kota Bayuangga itu bertambah menjadi 26 sekolah. “Kami menjadi daerah ke-8 di Jatim yang deklarasi pendidikan inklusi,” ujar Heri.

Seperti diketahui, pendidikan inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan. Di dalam sekolah inklusi terdapat anak (siswa) regular juga ABK.

Sekolah inklusi pada dasarnya bertujuan merangkul semua siswa berbagai latar belakang dan kondisi dalam satu sistem sekolah dan mencoba untuk menemukan dan mengembangkan potensi siswa yang majemuk.

Selama ini publik lebih mengenal sekolah segregasi, yang menempatkan para ABK (tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita) di sekolah luar biasa (SLB). Sementara sekolah inklusi merupakan sekolah regular pada umumnya, yang di dalamnya juga menampung ABK.

Sebenarnya tidak hanya di dunia pendidikan yang kurang memperhatikan nasib ABK. Bahkan di tengah-tengah masyarakat masih ada stigma (cap buruk) bagi ABK. “Keluarga yang memiliki ABK pun dengan alasan malu, berusaha menyembunyikan ABK-nya bahkan ada yang sampai memasung anggota keluarganya,” ujar Heri.

Padahal pengucilan ABK, justru akan semakin memperparah kondisinya. Jika ABK sampai tidak mendapatkan pendidikan yang layak, proses tumbuh-kembang, pendidikan, dan sosialnya akan terganggu.
Sukses deklarasi Kota Inklusi dan membuka sekolah-sekolah inklusi, Heri menilai masih ada “PR” (pekerjaan besar) yang belum diselesaikan. “Kami berharap, ke depan Kota Probolinggo punya SLB negeri atau Pusat Layanan Autis (PLA) seperti Kota Malang, Surabaya, dan Kota Blitar,” ujarnya.(im)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional