pariwisata kota probolinggo

Kecamatan Tiris Tertinggi Buta Aksara

  Dibaca : 317 kali
Kecamatan Tiris Tertinggi Buta Aksara
TUNTASKAN: Kasi PLS di Dispendik, Massajo ingin tuntaskan buta aksara. (mus)
space ads post kiri

* 3 Kecamatan Mendominasi Diantara 24 Kecamatan di Probolinggo

Angka buta aksara tertinggi di Kabupaten Proboliggo masih didominasi Kecamatan Tiris. Meski “juara” buta aksara, Kecamatan Tiris mengalami penurunan angka penyandang buta aksara cukup signifikan.

Kasi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan (Dispendik) setempat, Massajo mengatakan, jumlah penyandang buta aksara di Kecamatan Tiris tahun 2015 lalu mencapai 4.348 orang.

Padahal pada 2014 lalu, angka buta aksara di kecamatan tersebut mencapai 7.268 orang.

“Penurunan angka buta aksara di Kecamatan Tiris cukup signifikan. Turunnya sampai 2.920,” ujarnya, Rabu (17/2).

Massajo menambahkan, setelah Kecamatan Tiris disusul Krucil dan Bentaran berada di urutan kedua dan ketiga. Yakni dengan rincian, Kecamatan Krucil jumlah buta aksara mencapai 4.700 orang.

Sedangkan Kecamatan Bantaran mencapai 3.315 orang.

“Krucil dan Bantaran juga mengalami penurunan cukup signifikan. Sayangnya tiga kecamatan tersebut paling mendominasi angka buta aksara di 24 kecamatan di kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Sementara untuk kecamatan yang bebas buta aksara pada 2015 meliputi Pajarakan dan Sukapura. Bahkan, kata Massajo, untuk 2016, ada tujuh kecamatan yang diprediksikan bebas buta aksara. Yakni, Pajarakan, Sukapura, Kraksaan, Paiton, Gending dan Dringu.

“Kami berharap pihak keluarga buta aksara ikut berperan aktif agar pemberatasan buta aksara di Kabupaten Probolinggo berjalan cepat,” terangnya.

Tanpa bantuan orang terdekat buta aksara, kata Massajo, program baca tulis dan menghitung (Calistung) yang digulirkan pemerintah terancam akan tersendat.

Soalnya, biasanya setelah program Calistung berakhir, seringkali warga abai dan melupakan ilmu yang telah ia dapatkan.

“Kalau setiap ada kegiatan desa mulai dari tingkat RT, warga yang usai menjalani program pengentasan buta aksara diberdayakan seperti dijadikan panitia untuk menulis tamu yang hadir, kemungkinan hasil belajar selama 4 hingga 6 bulan akan terus terasah,” terangnya.

Perlu diketahui, selama 2015, pemerintah daerah telah menganggarkan program pemberantasan buta aksara bagi 11.110 orang yang menyebar di 24 Kecamatan.

Sedangkan pemerintah pusat memberikan anggaran untuk program pemberantasan buta aksara bagi 3.000 orang.(mus)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional